Lah, Kok Jadi Banjir Debian
Beberapa hari yang lalu kami sempat mendapat musibah – kebanjiran. Yang sebelumnya kawasan ini belum pernah didatangi ‘air yang berlebihan’ di lorong kecil ini. Tempat untuk menghabiskan waktu – tidur, ngenet, diskusi. Bagiku ini merupakan pengalaman kali pertama sejak berada di kota ini, benar-benar menyesakkan dada karena tidak hanya sekedar membersihkan ruangan yang kotor namun harus diganjar mahal dengan rusaknya beberapa alat elektronik punyaku dan punya kawan awak satu ini. Tak ketinggalan tentunya baju dan buku, kasur juga direndam air. Penyebabnya adalah drainase yang tidak baik. Kerja keras sudah dilakukan sebelumnya oleh kawan awak ini sebelum aku sampai di rumah. Karena pada saat itu lagi liburan, ceileh… pulkam alias pulang kampung ato mudik. Jadi setelah menerima sms langsung balik, mengingat perjuangan yang dilakukan pasti begitu berat. Makasih ya wak!
1 unit hi-fi, 2 unit notebook sudah jadi korbannya. Alhamdulillah masih bisa dimamfaatkan, proses pembongkaran, pengeringan dan dikipasi beberapa hari terus dilakukan. Karena keterbatasan perangkat kerja dan kemampuan membongkar barang-barang ini alias takut kena sindrom montir kabanjahe (bautnya lebih satu). Akhirnya dibawa juga ke toko komputer dekat rumah.
Hanya sedikit timbul masalah di sistem dan perangkat keras yang setelah dibongkar, sistem operasi yang sedikit aneh, tombol yang sedikit tertukar tempat fungsinya (CTRL & FN), tentunya masih menggunakan windows. Disarankan untuk menginstall ulang sistemnya. Ssst.., sebenarnya ini adalah laptop pertama yang aku miliki jadi baru beberapa minggu digunakan. Singkat kata kuputuskan untuk melepaskan keakutan terhadap si win32.exe. Pilihan saat ini jatuh kepada distro BlankOn 4.1 dengan permak-an tampilan Mac OS/X Leopard.
Sejauh ini belum terkendala untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti pengolah dokumen, pengolah gambar, pengolah audio/video. Namun, masih ada pr yang harus dilakukan wireless-nya belum berfungsi. Tidak mau berasosiasi dengan AP (access point) di zona publik Internet kampus. Kenapa juga ya? Ntar insyallah besok dibawa ke kantor aja untuk test apakah dia cukup bersahabat dengan AP DLink 2100AP+.


Wah, sepertinya suara dari komputer wak satu ini sudah terdengar. Debian 5.0 Lenny juga disandingkan di mesin low-end. Pentium III 800 Mhz, RAM 128 MB menjadi tempat browsing dan penyimpan data. Selamat tinggal win32.error. Halax… dari banjir air sekarang banjir debian di AMNet. Bagi yang ingin ambil iso Debian 5 Lenny silahkan datang ya, saat ini sudah 13 iso/cd yang diunduh. Masih dicicil lagi. Sabar ya!
Update:**
Wirelessnya sudah berfungsi normal, cukup dengan memperbaharui kernel
$ sudo apt-get –reinstall instal llinux-image-2.6.27-11-generic